AJARAN POKOK TASAWUF

BAB I

PENDAHULUAN

Tasawuf itu bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Banyak ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits Nabi SAW. berbicara tentang hubungan antara Allah dengan hamba-Nya manusia. Di dalam makalah ini hanya membahas tentang Ajaran Pokok Tasawuf yang mempunyai lima pembahasan saja yang menurut saya ketahui, yaitu Zuhud, Al mahabbah, Al ma’rifah, Al Fana’ dan Al Baqa’, dan Al Ittihad. Tujuan sebenarnya dari sufi ialah berada sdekat mungkin dengan Tuhan sehingga tercapainya persatuan. Jalan untuk mencapai tujuan itu panjang dan berisi stasiun-stasiun yang disebut dalam bahasa Arab al-maqamat. Buku-buku tasawuf tidak selamanya memberikan angka dan susunan yang sama tentang stasiun-stasiun itu. Untuk lebih jelas lagi, pemakalah akan mencoba menguraikan pembahasan tersebut pada berikut ini.

BAB II

PEMBAHASAN

A . ZUHUD

Secara etimologis, zuhud berarti ragaba ‘ansyai’in wa tarakahu, artinya tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Zahada fi al-dunya, berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah. [1]Orang yang melakukan Zuhud itu disebut zahid, zuhhad atau zahidun. Zahidah jamaknya zuhdan, artinya kecil atau sedikit.[2]

Berbicara tentang arti zuhud secara terminologis, maka tidak bisa dilepaskan dari dua hal. ­Pertama, zuhud sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tasawuf. Kedua, zuhud sebagai moral (akhlak) Islam dan gerakan protes. Apabila tasawuf diartikan adanya kesadaran dan komunikasi langsung antara manusia dengan Tuhan [3]sebagai perwujudan ihsan, maka zuhud merupakan suatu stasuin (maqam) menuju tercapainya “ perjumpaan” atau ma’rifat kepada-Nya. Dalam posisi ini menurut A. Mukti Ali, zuhud berarti menghindar dari berkehendak terhadap hal-hal yang bersifat duniawi atau ma siwa Allah.

Al-Junaidi mengatakan bahwa zuhud ialah “kosongnya tangan dari pemilikan dan kosongnya hati dari pencarian (mencari sesuatu)”.[4] Demikian pula Ruwaim ibn Ahmad mengatakan bahwa zuhud ialah menghilangkan bagian jiwa dari dunia, baik berupa pujian dan sanjungan, maupun posisi dan kedududkan di sisi manusia.[5]

Zuhud di sini berupaya menjauhkan diri dari kelezatan dunia dan mengingkari kelezatan itu meskipun halal, dengan jalan berpuasa yang kadang-kadang pelaksanaannya melebihi apa yang ditentukan oleh agama. Semuanya itu dimaksudkan demi meraih keuntungan akhirat dan tercapainya tujuan tasawuf, yakni rida, bertemu dan ma’rifat Allah SWT.[6]

Di sini zuhud berarti tidak merasa bangga atas kemewahan dunia yang telah ada di tangan, dan tidak merasa bersedih karena hilangnya kemewahan itu dari tangannya.[7] Bagi Abu al-Wafa al-Taftazani, zuhud ini bukanlah kependetaan atau terputusnya kehidupan duniawi, akan tetapi merupakan hikmah pemahaman yang membuat seseorang memiliki pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi itu.

Perbedaaan antara zuhud sebagai maqam dengan zuhud sebagai moral (akhlak) Islam dan gerakan protes ialah:

àYang pertama melakukan zuhud dengan tujuan bertemu Allah SWT dan ma’rifat kepada-Nya, dunia dipandang sebagai hijab antara dia dengan Tuhan, sedangkan yang kedua hanya sebagai sikap mengambil jarak dengan dunia dalam rangka menghias diri dengan sifat-sifat terpuji, karena disadari bahwa cinta dunia merupakan pangkal kejelakan (ra’su kulli khafi’ah).

àYang pertama bersifat individual sedangkan yang kedua bersifat individual dan sosial, dan sering dipergunakan sebagai gerakan protes terhadap ketimpangan sosial.

àYang pertama formulasinya bersifat normatif, doktrinal, dan ahistoris, sedangkan yang kedua formulasinya bisa diberi makna kontekstual dan historis.

 

Klasifikasi arti zuhud ke dalam dua pengertian tersebut sejalan dengan makna ihsan. Yang pertama berarti ibadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, dan zuhud sebagai salah satu maqam menuju ke sana. Dan yang kedua, arti dasar ihsan ialah berbuat baik.

Harun Nasution mencatat ada limapendapat tentang asal usulzuhud. Pertama, dipengaruhi oleh cara hidup rahib-rahib Kristen. Kedua, dipengaruhi oleh Pythagoras yang mengharuskan meninggalkan kehidupan materi dalam rangka membersihkan roh. Ajaran meninggalkan dunia dan pergi berkontemplasi inilah yang mempengaruhi timbulnya zuhud dan sufisme dalam Islam. Ketiga, dipengaruhi oleh ajaran Plotinus yang menyatakan bahwa dalam rangka penyucian roh yang telah kotor, sehingga bisa menyatu dengan Tuhan harus meniggalkan dunia. Keempat, pengaruh Budha dengan paham nirwananya, bahwa untuk mencapainya orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Kelima, pengaruh ajaran Hindu yang juga mendorong manusai meninggalkan dunia dan mendekatkan diri kepada Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dengan Brahmana.[8]

 

B. AL MAHABBAH

Al-Junaidi berkata: “Cinta adalah kecenderungan hati,” berarti bahwa hati cenderungkepada Tuhan dan apa yang berhubungan dengan Tuhan, tanpa dipaksa. Yang lain berkata: cinta adalah penyesuaian,” yaitu kepatuhan terhadap apa yang diperintahkan oleh Tuhan, menjauhkan diri dari apa yang dilarang oleh Tuahn, dan puas dengan apa yang ditetapkan dan diatur oleh-Nya. Muhammad ibn Ali al-Kattani berkata: “Cinta berarti lebih menyukai Kekasihnya.” Yang lain berkata: “Cinta berarti lebih menyukai apa yang dicintai untuk orang yang dicintainya.” Abu Abdillah al-Nibaji berkata: ”Cinta adalah kesenangan jika itu ditunjukan kepada makhluk, dan pembinasaan jika itu ditunjukan kepada Pencipta. Salah seorang tokoh Sufi berkata: Cinta adalah suatu kesenangan, dan dengan Tuhan tidak ada kesenangan; sebab keadaan-keadaan hakikat itu merupakan kekagetan, penyerahan dan kebingungan. Cinta manusia kepada Tuhan adalah suatu pemujaan yang bersemayam di dalam hati, dan penafian cinta kepada sesuatu selain Tuhan. Cinta Tuhan kepada manusia adalah bahwa Dia menyusahkannya, dan membuatnya tidak layak untuk apa pun kecuali untuk Dia.

Cinta manusia kepad Allah adalah merupakan keagungan yang bertempat di hatinya, maka hati manusia tidak akan merasa tenang apabila mengagungkan selain Allah; dan cinta Allah kepada manusia iyalah bahwa Dia akan membebani hamba-Nya sehingga tidak patut bagi selainnya.

Seorang pemimpin sufi berkata: “Cinta itu ada dua macam: Pertama, cinta yang hanya dalam pengakuan saja, cinta yang demikian berada pada setiap menusia. Kedua, cinta yang dihayati dan diresapi dalam hati karena keluar dari lubuk hati, cinta demikian akan membawa pengorbanan dengan tidak melihat kepentingan/keuntungan yang akan didapat baik oleh diri orang itu sendiri atau untuk selainnya, cinta yang demikian adalah cinta cinta yang benar-benar dan semata-mata hanya dari dan untuk Allah.

C. AL MA’RIFAH

Al Ma’rifah artinya pengenalan atau mengenal Ilmu Ketuhanan dalam Islam adakalanya juga disebut “ilmu Ma’rifah”, karena ilmu ini membahas hal pengenalan kepada Allah (ma’rifatullah) antara lain mengenal sifat-sifat-Nya yang wajib, dan juga jaiz, demikian juga sifat-sifat mustahil bagi-Nya dan lain-lain ma’rifah yang diperintahkan Allah untuk dipercayai.

Al Mahabbah senantiasa didampingi oleh al-ma’rifah. Al-Mahabbah dan al-Ma’rifah merupakan kembar dua yang selalu disebut bersama. Keduanya menggambarkan hubungan rapat yang ada antara sufi dan Tuhan. Yang pertama menggambarkan rasa cinta dan yang kedua menggambarkan keadaan mengetahui Tuhan dengan hati sanubari. Al-ma’rifah tidak sama dengan al-‘ilm. Kalau al-ma’rifah diperoleh dengan hati nurani, al-‘ilm diperoleh dengan akal. Al-ma’rifah dimiliki hanya oleh kaum sufi. Al-ma’rifah tidak diperoleh begitu saja tetapi bergantung pad rahmat Tuhan. Untuk memperoleh itu hati seorang sufi harus dibuka Tuhan dan tabir yang ada antara sufi dan Tuhan harus dihilangkan terlebih dahulu. Dalam al-ma’rifah sufi telah berhadap-hadapan dengan Tuhan. Dengan lain kata sufi telah melihat Tuhan dengan hati nuraninya.

Sufi yang dikatakan pertama membawa paham al-ma’rifah adalah Zunnun Al-Misri. Sebagai dapat dilihat dari namanya Zunnun berasal dari Mesir. Ia lahir di Mesir Selatan; tanggal lahirnya kurang diketahui, tetapi ia meninggal pada tahun 859 M. Selain dari sufi ia menurut riwayatnya juga ahli ilmu pengetahuan dan filsafat. Dikatakan bahwa ia juga dapat membaca huruf hieroglif yang ditinggalkan zaman Fir’aun di Mesir.

Al-ma’rifah, kata Zunnun adalah cahaya yang dilontarkan Tuhan ke dalam hati sufi. “Orang yang tahu Tuhan tidak mempunyai wujud tersendiri tetapi berwujud melalui wujud Tuhan”.

Tasawuf dalam bentuk al-ma’rifah serupa ini diterima oleh Al-Ghazali dan atas pengaruh Al-Ghazali selanjutnya dapat pula diterima dan diakui oleh Ahli Sunnah dan Jama’ah. Dapat dikatakan bahwa atas pengaruh Al-Ghazalilah maka tasawuf dapat berkembang di dunia Islam yang menganut Ahli Sunnah.

Dengan sampainya seorang sufi ke tingkat al-ma’rifah, ia pada hakikatnya telah dekat benar dengan Tuhan. Untuk berpindah dari tingkat berhadap-hadapan dengan Tuhan ke tingkat bersatu dengan Tuhan diperlukan satu langkah saja.

D. AL FANA’ dan AL BAQA’

Sebelum dapat mencapai tingkat al-ittihad, sufi harus terlebih dahulu mencapai al-fana’. Al-fana’ senantiasa diikuti oleh al-baqa’. Al-fana’ ialah penghancuran dari sedangkan al-baqa’ merupakan kelanjutan wujud. Sebagai halnya dengan al-ma’rifah dan al-mahabbah, al-fana’ dan al-baqa’ juga merupakan kembar dua.

Yang dimaksud dengan al-fana’ ialah penghancuran perasaan atau kesadaran seorang tentang dirinya dan tentang makhluk lain di sekitarnya. Sebenarnya dirinya tetap ada dan demikian juga makhluk lain tetap ada, tetapi ia tidak sabar lagi tentang wujud mereka bahkan juga tentang wujud dirinya sendiri. Di ketika itulah ia sampai kepada al-baqa’ atau kelanjutan wujud dalam diri Tuhan. Di situ pulalah tercapainya al-ittihad.

Di dalam pendapat lain, al-fana’ ialah hilangnya semua keinginan hawa nafsu seseorang, tidak ada pamrih (kepentingan) dari segala perbuatan manusia, sehingga ia kehilangan segala perasaannya dan dapat membedakan sesuatu secara sadar dan ia telah menghilangkan semua kepentingannya dalam ia berbuat sesuatu.

Dan al-baqa’ yang ada pada sufi, ialah hilangnya segala sesuatu yang ada pada dirinya dan menetapkan (mengekalkan) apa-apa yang bagi Allah.

Seorang pemimpin sufi berkata: “al-baqa’ itu merupakan tingkatan spritual yang ada pada para nabi, mereka bersifat tenang, apa-apa yang menimpa diri mereka tidak dapat mencegah mereka dari kesibukan melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka kepada Tuhan dan tidak dapat mencegah anugerah Allah yang diberikan kepada mereka.”

Sufi pertama yang membawa falsafat ini adalah Abu Yazid Al-Bustami. Ia lahir di Bistam di Persia pada tahun 874 M dan meninggal dalam usia 73 tahun. Kelihatannya ia mempunyai istri, tetapi tak dapat diketahui perincian selanjutnya dari hidup perkawinannya ibunya juga merupakan seorang zahid dan Abu Yahid amat patuh padanya. Sungguhpun orang tuanya adalah sa;ah satu pemuka masyarakat yang berada di Bistam, Abu Yazid memilih kehidupan sederhana dan menaruh kasih sayang serta kasih pada fakir miskin. Ia jarang keluar dari Bistam dan ketika kepadanya dikatakan bahwa orang yang mencari hakikat selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain, ia menjawab: “Temanku (maksudnya Tuhan) tidak pernah bepergian dan oleh karena itu akupun tidak bergerak dari sini”. Sebagian besar dari waktunya ia pergunakan untuk beribadat dan memuja Tuhan.

E. AL ITTIHAD

Dengan tercapainya al-fana’ dan al-baqa’ itu sampailah Abu Yazid kepada al-ittihad. Dalam tingkat ini seorang sufi merasa dirinya telah bersatu dengan Tuhan. Yang mencintai dan yang dicintai telah menjad satu. Identitas yang mencintai telah hilang. Identitas telah menjadi satu. Sufi bersangkutan karena fananya telah tak mempunyai kesadaran lagi dan berbicara dengan nama Tuhan. Di dalam al-ittihad yang disadari hanya satu wujud sungguhpun sebenarnya ada dua wujud. Yang disadari hanyalah wujud Tuhan.

Penyatuan berarti pemisahan dari segala sesuatu yang selain Tuhan, dalam hati tidak melihat dalam arti memuja apa-apa kecuali Tuhan dan tidak mendengar apa-apa kecuali firman Tuhan. Al-Nuri berkata: “Penyatuan adalah pengungkapan hati dan perenungan kesadaran.” Pengungkapan hati itu dilukiskan dalam kata-kata Haritsah: “Seolah-olah saya melihat Singgasana Tuhan saya tampil,” sedangkan perenungan (dari ) kesadaran itu ditunjukan dalam perkataan Nabi: “Pujalah Tuhan seolah-olah engkau melihat-Nya,” dan perkataan Ibn Umar: “Kami melihat Tuhan itu.” Yang lain berkata: “Penyatuan terjadi ketika kesadaran datang dalam keadaan alpa,” yang berarti bahwa pemujaan kepada Tuhan itu mengacaukan pemujaan kepada segala sesuatu yang lain. Salah seorang tokoh besar Sufi berkata: “Penyatuan adalah ketika hamba itu tidak bersaksi atas apa pun kecuali Penciptanya dan ketika tak ada pemikiran apa pun kecuali mengenai Pembuat dirinya.” Sahl berkat: “Mereka digerakkan oleh kesusahan karena itu mereka berada dalam kekacauan. Kalau mereka sedang tenag, maka mereka pasti telah mencapai penyatuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Unsur kehidupan tasawuf ini mendapatkan perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran Islam, Al-Qur’an dan Al-Sunnah serta praktek kehidupan Nabi dan sahabatnya. Lebih jauh Al-Qur’an berbicara tentang kemungkinan manusia dan Tuhan dapat saling mencintai (al-mahabbah).

Dengan demikian inti dari ajaran tasawuf adalah menempatkan Allah sebagai pusat segala aktivitas kehidupan dan menghadirkan-Nya dalam diri manusia sebagai usaha memperoleh keridhaan-Nya.

Sebenarnya para sufi itu belumlah dikatakan menjadi sufi, tapi barulah menjadi zahid atau calon sufi. Ia menjadi sufi setelah sampai ke stasiun berikutnya dan memperoleh pengalaman-pengalaman tasawuf.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Syukur, M. Amin, Zuhud di Abad Modern. Yogyakarta: Penerbit PUSTAKA PELAJAR,1997

Ya’qub, H. Hamzah, Ilmu Ma’rifah Sumber Kekuatan dan Ketenteraman batin. Jakarta: Penerbit oleh CV. Atisa, 1988

Nasution, Harun, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jilid II. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 1984-1985

Al-Kalabadzi, Ajaran Kaum Sufi. Bandung: Penerbit Mizan, 1995

Kalabadzi, Abu Bakar M, Ajaran-ajaran Sufi. Bandung: Penerbit Pustaka, 1995

 


[1] Lois Ma’lut al-Yasu’i, al_Munjid…, op.cit., hlm 308. Lihat pula Ahmad Warsun Munawir, al_Munawwir: Kamus Arab-Indonesia. PP. Al-Munawwir. Yogyakarta. 1984. Hlm. 626. (diambil dari buku, Syukur,Amin. Zuhud di Abad Modern, hlm. )

[2] Ibid., hlm. 1

[3] Harun Hasution, Filasafat dan Misitisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1978, hlm. 56. (diambil dari buku, Syukur,Amin. Zuhud di Abad Modern, hlm. 1)

 

[4] Al-Kalabazi, Al-Ta’arrufi li mazhab Ahl al-Tasawuf; disunting oleh Mahmud Dar al-kutub al-Hadisah, Mesir, 1969, hlm. 112 (diambil dari buku, Syukur,Amin. Zuhud di Abad Modern, hlm. 2)

[5] Al-Tusi, Abu Nasr al-Tusi, al-Luma’, disunting oleh ‘Abdul Halim Mahmud Dar al-kutubal-Hadisah, Mesir, 1969. Hlm. 73. (diambil dari buku, Syukur,Amin. Zuhud di Abad Modern, hlm. 2)

[6] Abu al_Wafa al-Taftazani, al-Madkhal ila al-Tasawuf al-Islami, Dar al-Saqafah, Qahirah. 1970, hlm. 25. (diambil dari buku, Syukur,Amin. Zuhud di Abad Modern, hlm. 2)

[7] Al-Qusayiri, I, Al-Risalah al-Qusyairi I, edisi Abd. Al Halim Mahmud,dkk., Dar al-Kutub al Hadisah, Kairo,tt., hlm. 367. Bandingkan dengan Al-Qur’an surah al-Hadid ayat 23. (diambil dari buku, Syukur,Amin. Zuhud di Abad Modern, hlm. 3)

[8] Harun Nasution, op.cit., hlm. 58-9. (diambil dari buku, Syukur,Amin. Zuhud di Abad Modern, hlm. 4)

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: